Search
News

Page 1 of 4  > >>

Apr 23, 2013
Category: WARTA HEBRON
Posted by: admin
Once and for all
Apr 15, 2012
Category: WARTA HEBRON
Posted by: admin
MAJELIS GPdI 2012-2017
Dec 5, 2011
Category: WARTA HEBRON
Posted by: admin
Nov 6, 2011
Category: WARTA HEBRON
Posted by: admin
Oct 30, 2011
Category: WARTA HEBRON
Posted by: admin
Aug 7, 2011
Category: WARTA HEBRON
Posted by: admin
Ibadah Bisnis Profesi & Karyawan GPdI Hebron
Jul 24, 2011
Category: WARTA HEBRON
Posted by: admin
Jul 24, 2011
Category: WARTA HEBRON
Posted by: admin

 

Jul 13, 2011
Category: WARTA HEBRON
Posted by: admin
Jun 8, 2011
Category: WARTA HEBRON
Posted by: admin
 

Life Without Limits

Tanpa Lengan & Tungkai, Aku Bisa Menaklukkan Dunia

Oleh Nick Vujicic SINOPSIS

“Orang kerap bertanya bagaimana aku bisa bahagia walaupun tidak punya lengan dan tungkai. Jawaban cepatku adalah aku punya pilihan. Aku bisa merasa marah karena tidak punya tungkai, atau aku bisa bersyukur karena punya tujuan. Aku memilih sikap bersyukur. Kau juga bisa melakukannya.”—Nick Vujicic



Life Without Limits adalah buku inspiratif yang ditulis oleh orang biasa. Nick Vujicic, yang terlahir tanpa lengan dan tungkai, mengatasi cacat tubuhnya dengan menjalani kehidupan yang tidak hanya mandiri, tapi juga kaya dan penuh; menjadi teladan bagi siapa pun yang mencari kebahagiaan abadi. Dia sekarang merupakan pembicara motivasi yang sukses secara internasional. Pesan utamanya: tujuan terpenting siapa pun adalah menemukan tujuan hidup, terlepas dari kesulitan apa pun atau rintangan apa pun yang sepertinya mustahil dilalui.

Nick menceritakan cacat fisik dan pertempuran emosi yang dialaminya saat berusaha mengatasi keadaannya semasa kecil, remaja, dan menjelang dewasa muda. “Untuk waktu yang terasa sangat lama dan sepi, aku bertanya-tanya apakah ada orang lain di dunia yang seperti aku, serta apakah ada tujuan lain dalam kehidupanku selain rasa sakit dan terhina.” Dia berbagi tentang bagaimana imannya terhadap Tuhan menjadi sumber kekuatan utamanya dan menjelaskan bahwa begitu dia menemukan tujuan kehidupan—menginspirasi orang lain untuk menjadikan kehidupan mereka serta dunia lebih baik—dia mendapatkan kepercayaan diri untuk membangun kehidupan tanpa batas yang produktif dan membawa berkah.

 

Sumber : www.gramediashop.com - Buku Life Without Limits - Nick Vujicic

Blessed Hebron Family
an image
You are here: Ringkasan Kotbah » Dimanakah Yesus Ketika Kita Membutuhkan Dia

Dimanakah Yesus Ketika Kita Membutuhkan Dia

Oleh : Pdt . Soerono Mth.

Barangkali setiap kita pernah kehilangan seseorang yang kita kasihi. Apakah itu orang tua, anak, famili, sahabat atau orang-orang yang dekat dengan kita dan lain sebagainya. Ketika kehilangan seseorang pastinya perasaan ini begitu berat dan sulit untuk menghadapi kenyataan itu. Peristiwa yang sama terjadi diantara dua murid Yesus yang sedang bercakap-cakap dalam perjalanan menuju ke Emaus (Lukas 24:13-35). Perjalanan mereka terasa begitu panjang, sebab Yesus yang mereka anggap sebagai Rabi telah meninggal ditangan orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Namun tanpa mereka sadari sosok Yesus yang telah bangkit dari kematian menghampiri bahkan menyertai hingga tiba di tempat yang mereka tuju. Mungkin kita bertanya, kok mereka tidak dapat melihat bahwa pribadi yang bersama dengan mereka adalah Yesus? Sebelum kita jauh mengintervensi ketidaksadaran mereka, mari kita menempatkan diri kita pada posisi mereka. Sebab masalah yang mereka hadapi adalah masalah yang terus mewarnai kekristenan dewasa ini.

Ada tiga persoalan yang terus terjadi diantara orang-orang percaya sehingga tidak selalu melihat penyertaan dan pertolongan Tuhan yang heran, yaitu :

1. Terkadang kita tidak menyadari kehadiranNya

Ayat 16 “Tetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak mengenal Dia.” Apakah sebenarnya sesuatu yang dimaksud dalam ayat ini? Kalau kita belajar tentang peristiwa dimana Yesus menyampaikan pengajaranNya melalui perumpamaan kepada orang Israel dan bagaimana mata mereka seolah-olah dibutakan dan tidak dapat memahami sepenuhnya apa yang Yesus ajarkan, maka sesungguhnya ‘sesuatu’ yang dimaksud dalam ayat ini adalah pekerjaan iblis yang berusaha menghalangi mata kita untuk melihat Yesus sebagaimana adanya dan juga tingkat pengertian kita yang selalu dibuyarkan oleh intimidasi kuasa kegelapan. Hal ini bukan saja terjadi hanya kepada Kleopas dan temannya yang lain, tetapi juga kepada gereja Tuhan di akhir zaman. Dalam perjalanan kehidupan ini, betapa sering kita tidak melihat penyertaan Tuhan dan tidak sadar bahwa sesungguhnya Ia hadir menemani bukan saja ketika kita diberkati melainkan juga saat kita merasa sendiri dan tidak ada yang peduli.

2. Terkadang kita lamban untuk percaya

Ayat 25 “Lalu ia berkata kepada mereka: hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga tidak percaya segala sesuatu yang telah dikatakan para nabi!” Pada bagian ini Tuhan Yesus tidak menegur dan mencela mereka karena meninggalkan Yerusalem sebagai pusat persekutuan orang-orang percaya. Juga tidak menegur kecemasan, kebingungan serta kekecewaan mereka, justru yang Yesus tegur adalah hati mereka yang lamban untuk percaya kepada Firman Tuhan. Persoalan yang sama juga sering dialami oleh Gereja Tuhan diakhir zaman ini. Sebuah survei membuktikan bahwa Otak kita lebih canggih dan lebih cepat dari komputer, tetapi hati kita begitu lamban. Itu sebabnya seorang Filsuf menulis dalam bukunya, bahwa perjalanan yang paling panjang itu adalah dari kepala ke hati. Artinya, kita boleh atau mungkin tahu banyak hal tentang Tuhan, namun apakah lekas kita percaya kepadaNya? Realitanya sering tidak demikian. Oleh karena itu, marilah kita membuat hati ini menjadi percaya kepada setiap Firman Tuhan dan terus menambahkannya hingga kepercayaan kita kepadaNya  tidak dapat digoyahkan.

3. Terkadang kita merasa Ia meninnggalkan kita

Ayat 28 “Mereka mendekati kampung yang mereka tuju, lalu Ia berbuat seolah-olah hendak meneruskan perjalananNya.” Mungkin kita bertanya dalam ayat ini, apakah Yesus benar-benar ingin meninggalkan ke dua murid itu dalam keragu-raguan atau Ia sengaja berpura-pura dan membohongi mereka sehingga Ia berbuat seolah-olah melanjutkan perjalananNya? Jawabannya jelas tidak seperti itu! Sebenarnya Yesus berbuat demikian adalah supaya kita mengundangNya hadir dalam kehidupan kita. Sedianya Tuhan menyertai dan mengulurkan tangan untuk menolong, reaksi apakah yang kita tunjukkan untuk meresponinya? Jelas Ia mau kita harus mengundangNya tanpa merasa bahwa Ia mau meninggalkan kita.

 

Kalau kita simpulkan, dimanakah Yesus ketika kita membutuhkan Dia? Melalui peristiwa dalam ayat-ayat diatas, kita dapat tahu bahwa Ia selalu ada menyertai dan bersedia menolong kita karena Dia sudah bangkit dan hidup, meskipun  terkadang kita tidak menyadari kehadiranNya, hati kita lamban untuk percaya dan sering merasa Ia meninggalkan kita.